Category: celoteh


tulisan laki-laki

film Malena dan cerpen Goyang Penasaran memiliki kesamaan premis: kegilaan seisi desa pada seorang perempuan cantik. skala kegilaannya mungkin beda, tapi premisnya kurang lebih sama.
kesamaan lainnya adalah keduanya terasa ditulis oleh laki-laki. saya rasa tidak ada yang bisa berhasil menuliskan kegilaan birahi laki-laki pada perempuan selain penulis laki-laki. dengan kemampuan menulis yang sama, setidaknya laki-laki bisa punya pengalaman nyata mendambakan tubuh seorang perempuan. tapi dalam dua kisah itu, digambarkan seorang lelaki yang memiliki hasrat seksual pada seorang perempuan dan memendamnya begitu lama. ini mungkin agak sulit dibayangkan oleh perempuan, apalagi menuliskannya. laki-laki itu makhluk pemburu dan tidak puas dengan hanya satu obyek buruan.
tapi Goyang Penasaran ditulis oleh perempuan.

Iklan

Entah apa istilah yang tepat untuk blog ini. Sekian tahun nganggur tanpa post, ternyata post pertama diisi tulisan tentang bokep. Padahal saya bukan penggemar bokep. Ya, saya kadang membaca cerita mesum, kadang juga menonton bokep. Mengkonsumsi tayangan seksual itu wajar kan?

 

Untungnya – atau sayangnya- saya mengkonsumsi materi pornografi itu setelah dewasa. menontonnya ketika dewasa menjadikan saya nggak lantas menikmatinya ‘begitu saja’. sebelum bokep berceceran sembarangan di warnet, saya sudah membaca artikel atau apalah yang membahas film porno. Jadi bisa dibilang, sebelum membaca teks bokep, saya sudah membaca konteks bokep. CMIIW.
Materi pornografi adalah objektifikasi perempuan dan ditujukan semata bagi syahwat laki-laki. Itu saya amini setelah mengkonsumsinya. Cerita mesum misalnya, terasa sekali (kebanyakan) ditulis oleh laki-laki. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya juga pernah menulis cerita mesum, dan saya pernah membaca cerita mesum yang ditulis perempuan. Penulis laki-laki lebih berfokus pada efek suara ah-uh-oh, ukuran (semacam “dilumatnya kontolku yang panjangnya 19 cm itu“), dan percakapan mesum (semacam “oh tante, memekmu keset banget“). Tidak seperti penulis perempuan, mereka cenderung abai pada unsur emosi apalagi cerita. Tapi ya…apalah menariknya cerita mesum kalau jalan cerita sangat logis? Ia akan kehilangan elemen nakalnya.
kembali ke bokep. Bisa dibilang saya tidak pernah berburu bokep, jadi jangan heran kalau wawasan bokep saya minim. Misalnya, saya nggak kenal nama-nama kondang di jagad ah-uh-oh selain Miyabi. Lebih parah lagi, saya lebih sering menemukan materi pornografi itu di warnet, warisan dari pengguna bilik sebelum saya. Itu artinya, yang saya konsumsi adalah film-film ‘indie’ lokal yang tanpa cerita sama sekali. Jangankan cerita, adegan melepas baju pun belum tentu ada. Tapi yang menyenangkan adalah judul-judulnya. Judul seperti “Pramugari Hot”, “Pegawai Negeri Mesum”, atau “Anak Pengacara” misalnya, tidak menampilkan gambar atau narasi apapun yang menjelaskan bahwa yang terekam di kamera itu adalah pramugari, pegawai negeri, atau anak pengacara. Detail visual apa yang bisa menunjukkan itu? Seragam, KTP, akte kelahiran? Pakaian dalam pun belum tentu mereka pakai.
Dan bicara tentang film amatir, apalagi bokep, jangan lupa dua hal: kamera dan kesadaran-kamera pemeran-pemerannya. Tenang, kita tidak akan bicara soal distribusi. Itu soal lain, dan itu soal yang seharusnya jadi fokus pada penyelidikan kasus video porno, bukan tentang siapa pemerannya. Maka kita skip itu. Mari bicara tentang kamera, khususnya letak kamera, karena itu menyangkut kesadaran-kamera para pelaku video bokep. Melihat sudut gambar yang dihasilkan, kita bisa tahu apakah kamera itu: dipegang pemeran (biasanya pihak laki-laki), dipegang orang lain, atau dipasang stasioner alias tidak dipegang tangan. Ketika dipegang pemeran (laki-laki), belum tentu pemeran perempuan menyadari kehadiran kamera. Ketika sedang disetubuhi dalam keadaan mata terpejam atau mabuk misalnya, dia tidak akan sadar bahwa tubuh dan lenguhannya direkam. Ketika kamera dipegang orang lain, biasanya pemeran adegan seks menyadari keberadaan kamera. Kadang mereka bahkan ‘dibimbing’ oleh si ‘sutradara’, misalnya untuk ganti posisi. Biasanya ini dibuat oleh remaja yang penasaran akan seks. Mungkin ini yang dikritik di lagu “Kenakalan Remaja Di Era Informatika”-nya Efek Rumah Kaca. Mereka gemar telanjang di depan kamera, bersetubuh sambil tertawa-tawa dan sesekali bertanya ke sutradara, “begini?”, atau “oh ganti gue yang di atas?”. Persetubuhan seperti permainan belaka, tak ubahnya seperti permainan congklak atau ular tangga. Tidak ada desah sakit-tapi-nikmat atau sentuhan mesra ke pasangan. Lalu yang ketiga, tentang kamera yang ditempatkan pada suatu jarak dari pelaku bokep. Kamera ini tidaklah selalu disadari kehadirannya. pelaku bisa saja berciuman, saling remas, sampai bertukar cairan kelamin di sofa dengan santai, merasa tidak ada yang melihat.
Saya mau membahas tentang yang terakhir ini karena menonton dua video yang -okelah cukup hot- tapi sekaligus bikin miris. Yang pertama adalah video persetubuhan antara dua orang yang cukup berumur. Si perempuan berdiri telungkup di meja. Tubuh bagian atasnya masih tertutup rapat, tapi pantatnya terbuka. Si laki-laki mendatangi dengan baju lengkap pula, menyetubuhinya dari belakang, lalu pergi. Si perempuan lalu memandang bingung -sesekali ke arah kamera- sambil memegangi rok. Bagian tubuh bawahnya terbuka. Menilai dari ekspresi, penampilan fisik dan perlakuan terhadapnya, saya cenderung menyimpulkan bahwa itu adalah hubungan suka sama suka antara pihak laki-laki yang kedudukannya mungkin lebih tinggi atau sama dengan perempuan yang kedudukannya rendah (mungkin pembantu di kantor itu). Mungkin dia menyangka akan melakukan persetubuhan biasa dengan perlakuan yang juga standar, tidak langsung ditinggalkan setelah selesai. Lalu video yang kedua. Setting kamar tidur, cahaya seadanya. Sesekali ada insiden lampu mati, sehingga pemeran laki-laki meninggalkan si perempuan sebentar untuk membereskan masalah lampu. Selama ditinggal maupun berhubungan badan, wajah si perempuan memang beberapa kali tertuju ke arah kamera, tapi tidak nampak menyadari kehadiran kamera. Sebaliknya, si laki-laki tampak sangat sadar kamera, terlihat dari caranya memandang ke arah kamera dan menempatkan serta memastikan alat kelamin si perempuan menghadap kamera. Dari gesturnya, tampak bahwa si perempuan buta. Tentu saja dia tidak akan sadar bahwa tubuh dan gerak-geriknya direkam kamera. Dia hanya tahu ketika dijilat, dilumat, atau dipenetrasi.
Itu relasi yang menjijikkan.
Pihak laki-laki sengaja mencari perempuan yang posisinya lebih lemah untuk selanjutnya lebih dilemahkan pula posisinya dengan pengambilan gambar yang tanpa pemahaman si perempuan.
Seks itu indah. Tayangan seks seharusnya demikian pula, indah. Sekalipun dibuat hanya oleh orang-orang amatir, seharusnya bokep tetap memperlihatkan bahwa seks itu indah. Meskipun ada video seks yang memperlihatkan pasangan yang menikmati persetubuhannya direkam kamera, saya tetap setuju dengan pendapat bahwa video porno adalah objektifikasi perempuan dan perayaan syahwat laki-laki semata.