Category: coba


Ojo Golek Jenang, Goleko Jeneng

(sumber: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2012/07/05/592/Ojo-Golek-Jenang-Tapi-Goleko-Jeneng)

PEPATAH Jawa ini sempat dipopulerkan Si Juru Kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Ungkapan yang dilontarkan Mbah Maridjan kala itu dimaksudkan untuk menyindir para politisi yang ingin berkuasa, tetapi belum populer di masyarakat. Jenang diartikan sebagai simbol kekuasaan, sedangkan jeneng simbol dari popularitas.

Pepatah kuno tersebut pun sebenarnya menjadi sebuah kiasan nasehat, bahwa untuk memperoleh rejeki (pekerjaan) orang harus bisa menjaga nama baik terlebih dahulu. Tak hanya mementingkan hasil, tetapi harus menunjukkan kinerjanya terlebih dahulu. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Jaya Baya yang menggambarkan keburukan sifat sebagian besar manusia di zaman ini, “Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.”

Setelah kewajiban dikerjakannya, dengan sendirinya ‘jenang’ itu akan didapatkan. Namun jika manusia itu tidak berusaha meraih prestasinya secara maksimal, maka sebaiknya juga tidak perlu mengharapkan sepotong ‘jenang’ legit tersebut. Artian jenang ini pun luas, bisa saja berbentuk pendapatan maupun kompensasi dari nilai kerjanya.

Meski begitu, pada kenyataannya, banyak orang yang belum punya jeneng, tapi sudah bisa menggasak berkarung-karung jenang. Orang tidak perlu lagi bersusah payah menunjukkan prestasi dan produktivitas kerja, namun memilih jalan singkat dengan korupsi demi keuntungan sebanyak-banyaknya. Payahnya, pernyataan kitab Jaya Baya pun terbukti, “Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran, akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.”

Segala cara untuk menutupi kebusukannya itu pun di tempuh. Tidak heran, jika pencitraan pun terjadi di mana-mana. “Akeh pangkat sing jahat lan ganjil. Njabane putih njerone dhadhu.” Laiknya sindiran Filsuf Friedrich Nietsche, bahwa orang besar itu tidak akan ada, yang ada adalah orang-orang yang menciptakan citra ideal. Para komunikator politik dan pemimpin-pemimpin politik sangat lekat hubungannya dengan pencitraan.

“Golek jeneng nembe golek jenang” sebenarnya diartikan sebagai penyelarasan jiwa dengan hukum alam. Jika belum bisa menunjukkan prestasi, dedikasi, dan produktivitas, maka buang jauh-jauh mimpi untuk mendapatkan rejeki apalagi kekuasaan. Jika hal ini dipaksakan, maka ketidakadilan lah yang terjadi dan selalu akan menimbulkan korban. Maka, hanya keteguhan imanlah yang pada akhirnya mampu menolak godaan-godaan para ‘pengemis’ kekuasaan itu.

(Diantika PW/CN27)

Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik

Published on April 7, 2012

Artikel ini dibuat setelah saya melihat sampul buku-buku sastra klasik Indonesia yang dirancang kembali di dekade 2000-an, yang banyak salah interpretasi dan hanya menonjolkan efek dramatis. Saya pikir, hal ini disebabkan ketidakpedulian para penerbit (dan kita semua) terhadap profesi desainer grafis, yang masih dianggap pekerjaan ecek-ecek: yang penting informatif dan enak dipandang. Padahal, kotak kue yang baik tidak hanya dirancang untuk memuat dan menginformasikan apa yang ada di dalamnya, tapi juga memberi impresi tepat akan cita rasanya. Buku, lain dengan kue, sekali dibaca tidak habis, tapi mengendap dan menciptakan nilai-nilai baru. Karena itu, merancang buku sering dianggap sebagai tugas paling menantang bagi desainer grafis. Tidak seperti kotak kue, buku akan terus ada ketika stoknya habis dijual: disimpan, berpindah kepemilikan, atau diwariskan ke anak cucu.

Fakta pertama, jika kita perhatikan metamorfosis yang terjadi pada rancangan sampul-sampul buku yang diangkat di artikel ini, keempatnya berubah semakin njlimet dan dekoratif. Untuk masalah dekoratif ini mungkin penerbit punya alasan: bagaimana kami bisa bertahan jika tidak mengikuti arus tren sampul? Ya, coba kita tengok buku-buku chicklit, resep, atau pengembangan diri: semua sampulnya beradu ramai satu sama lain hingga tidak satu pun yang justru tampak menonjol. Sebenarnya, tidak ada alasan kenapa desain sampul buku sastra klasik harus turut tenggelam dalam gempuran buku popular lainnya. Fakta kedua, hampir semua sampul rancangan ulang justru mengurangi daya imaji dan greget buku. Ini yang saya sebut hilangnya impresi. Layaknya aura, impresi harus mampu membuat penasaran dan melayangkan imajinasi calon pembaca, menutupi sekaligus membocorkan konten buku.

  

Melihat sampul lama Olenka (Balai Pustaka, 1983), kita dibuat berkerut melihat dua wajah perempuan yang sama persis diletakkan berhadapan. Siapa perempuan cantik itu? Kenapa ada dua? Dan semakin diamati, semakin misteriuslah gambar itu karena menghasilkan sosok hitam di antaranya. Seperti itulah konten Olenka, sebuah perjalanan seorang pria yang jatuh cinta pada perempuan yang ia amati dari kejauhan. Siapa Olenka sebenarnya, tidak ada yang tahu, bahkan mungkin si penulis pun. Tema ‘kemisteriusan’ rupanya juga ingin diangkat oleh desainer baru Olenka (Balai Pustaka, 2009). Namun secara teknis sampul tersebut tampak terlalu njlimet karena berusaha menggabungkan banyak elemen, termasuk empat jenis font yang sungguh berlebihan. Secara konsep pun patut dipertanyakan: kenapa harus menggunakan jenis font gothic, di saat tidak ada satu pun elemen cerita yang berhubungan dengan jaman gothic? Kemisteriusan pun meluap bersama kebingungan kita dalam mempertanyakan ketidaknyambungan elemen-elemennya.

  

Hal serupa terjadi pada sampul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Melihat rancangan barunya (Pustaka Dini Malaysia, 2002), calon pembaca yang disuguhkan ilustrasi kapal terombang-ambing berpikir bahwa cerita ini berlatar sebuah kapal, layaknya Titanic. Belum lagi penulisan judul yang dibuat dengan efek tiga dimensi, dan KAPAL dituliskan dengan huruf kapital. Faktanya, Kapal Van Der Wijck hanya muncul sekali, itu pun di penghujung cerita. Berbeda jika kita melihat desain sampul terdahulu (Penerbit Bulan Bintang, 1976), imajinasi kita dibawa pada sesuatu yang ‘tidak ada’, membingungkan, sekaligus mengerikan: seakan keberadaan manusia dan benda-benda dihilangkan seketika oleh semesta. Kesan ini sesuai dengan cerita di dalamnya, yaitu kisah kasih tak sampai karena permasalahan keluarga dan perbedaan adat, yang akhirnya pupus setelah lama terombang-ambing. Desainer versi awal berhasil menangkap semua itu hanya dengan gambar riak laut berwarna gelap dan permainan tipografi sederhana pada judul (huruf ‘mn’ yang ‘tenggelam’).

  

Mereka yang pernah membaca kumpulan Seribu Kunang-kunang di Manhattan pasti terngiang-ngiang dengan spontanitas dan kesantaian Umar Kayam bercerita. Membacanya seperti mendengarkan seorang paman paruh baya yang sedang duduk di hadapan kita, bertutur sambil sesekali melamun. Mungkin karena itu, saya menganggap sampul awal Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Jaya, 1972) sangat sesuai dengan isi buku. Melihat sketsa pena satu warna (digambar oleh seniman Zaini), saya bisa membayangkan Umar Kayam sendiri yang menggambarnya ketika duduk termenung di Central Park menghadap bangunan-bangunan tinggi Manhattan. Sederhana, namun mampu membuat kita membayangkan suasana hatinya yang gundah ingin terus bercerita. Seperti buku-buku terbitan Pustaka Jaya pada era yang sama, penggunaan tipografi terasa pas, tidak neko-neko dan informatif. Lalu kita lihat rancangan ulang sampul buku tersebut (Grafiti Press, 2003). Walaupun secara komposisi tidak se-njlimet sampul-sampul rancangan baru yang sudah kita bahas, tapi agak sulit melihat keterhubungan ilustrasi sampul tersebut dengan nuansa cerita di dalamnya. Belum lagi jenis font yang dipilih sebagai judul, rasanya tidak tepat menggambarkan cerita Umar Kayam yang tegas dan spontan. Sampul baru ini tampak feminin, dan romantik. Mungkin karena itu, ketika ilustrasi serupa (digambar oleh seniman Rusli) digunakan pada sampul Pada Sebuah Kapal (Pustaka Jaya, 1973) karya NH Dini, takarannya menjadi pas.

  

Setelah mengamati sekian banyak sampul buku sastra klasik Indonesia dari dekade ke dekade, sampul Belenggu terbitan awal (Pustaka Rakjat, 1964) tampak menonjol karena menjadi satu-satunya rancangan yang menggunakan tipografi sebagai elemen informatif sekaligus ilustrasi, sesuatu yang sangat jarang dilakukan perancang sampul buku di Indonesia, bahkan hingga saat ini. Gambar tangan yang keluar dari huruf ‘B’ mengingatkan kita pada belenggu borgol, membuat pembaca dapat membayangkan bagaimana kisah cinta manusia yang seharusnya membebaskan justru mengekang dan berakhir tragis. Ketika sampul buku tersebut dirancang ulang (Dian Rakyat, 1976, 1999), dimunculkanlah sosok perempuan berkonde yang dengan pandangan mata dan gerakan tangannya, seolah adalah korban. Ini membingungkan, karena saya merasa bahwa ketiga karakter utama (dr. Tono, Tini, dan Yah), sama-sama terbelenggu oleh hasrat masing-masing, bukan salah satu tokoh perempuan saja. Huruf ‘B’ digambarkan berbentuk borgol, seakan ilustrasi perempuan tersebut kurang tampak nelangsa. Jangan-jangan, di rancangan ulang sampul berikutnya, tangan perempuan itu akan diborgol pula. Tidak semestinya interpretasi menjadi begitu harafiah.

Ketidaktepatan penggunaan elemen desain dan interpretasi dalam contoh-contoh di atas sebenarnya adalah kesalahan mendasar yang bisa dihindari apabila penerbit mau meluangkan waktu (dan uang) untuk mengajak desainer grafis yang kompeten bekerja sama. Tidak perlu lagi para editor atau pekerja admin adu jagoan multi-tasking di kantor. Ada baiknya kita belajar dari Penguin Classics sebagai penerbit buku yang terus mengusahakan cetak ulang buku sastra klasiknya dengan desain segar, tanpa meninggalkan esensi klasik. Mereka mengundang seniman, bahkan komikus muda untuk menggarap sampul sastra klasik seperti Dharma Bums karya Jack Kerouac (digambar oleh kartunis Norwegia, Jason) dan Candide karya Voltaire (digambar oleh Chris Ware). Hal serupa pernah dilakukan penerbit-penerbit Yogyakarta, salah satunya adalah Bentang, yang mengundang para seniman untuk menggarap sampul buku mereka, seperti Ong Harry Wahyu, R. E. Hartanto, Agung Kurniawan. Kolaborasi semacam ini juga sebenarnya dilakukan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya di era 1950-1970-an.

Tugas desainer grafis menyangkut begitu banyak bidang kehidupan: mulai dari seni, ekonomi, sosial, dan politik. Bahkan sastra klasik bersinggungan langsung dengan pendidikan. Bukankah karya sastra klasik Indonesia, telah berjasa menggambarkan perkembangan budaya dan perjuangan negeri ini? Maka dalam merancang sampulnya, sudah sepatutnyalah kita merias wajah terbaik yang bisa ditampilkan. [  ]

Tulisan ini dimuat di Majalah Bung! #2, edisi Desember 2011

disalin mentah-mentah dari sini: Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik

terjemahan.salman_rushdie

Di awal abad ke 19, ketika Srinagar dilanda musim dingin hebat yang seolah dapat menggemeretakkan tulang belulang yang rapuh, seorang lelaki muda berkulit merah dalam keadaan beku sedang berjalan, tak dapat disangkal, kilau kemakmuran dapat dilihat memasuki daerah kota yang paling kumuh dan bobrok, di mana rumah-rumah kayu dan besi berkarat tampak lenyap keseimbangannya, dan dengan pelan dia bertanya, namun dengan suara tegas, di mana dia dapat menyewa seorang bajingan yang bisa dipercaya. Nama laki-laki muda itu Atta, lalu bandit-bandit di daerah itu mengajaknya dengan gembira menyusuri lorong-lorong gelap yang sempit, sesampai di suatu tanah lapang yang basah oleh darah penyembelihan ayam dia dianiaya oleh dua orang yang wajahnya tidak pernah dia lihat, mereka merampas kartu-kartu bank yang nekat dibawanya dalam tamasya seorang diri, dia dihajar hingga nyawanya mendekati ajal.