Category: punya_orang


Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik

Published on April 7, 2012

Artikel ini dibuat setelah saya melihat sampul buku-buku sastra klasik Indonesia yang dirancang kembali di dekade 2000-an, yang banyak salah interpretasi dan hanya menonjolkan efek dramatis. Saya pikir, hal ini disebabkan ketidakpedulian para penerbit (dan kita semua) terhadap profesi desainer grafis, yang masih dianggap pekerjaan ecek-ecek: yang penting informatif dan enak dipandang. Padahal, kotak kue yang baik tidak hanya dirancang untuk memuat dan menginformasikan apa yang ada di dalamnya, tapi juga memberi impresi tepat akan cita rasanya. Buku, lain dengan kue, sekali dibaca tidak habis, tapi mengendap dan menciptakan nilai-nilai baru. Karena itu, merancang buku sering dianggap sebagai tugas paling menantang bagi desainer grafis. Tidak seperti kotak kue, buku akan terus ada ketika stoknya habis dijual: disimpan, berpindah kepemilikan, atau diwariskan ke anak cucu.

Fakta pertama, jika kita perhatikan metamorfosis yang terjadi pada rancangan sampul-sampul buku yang diangkat di artikel ini, keempatnya berubah semakin njlimet dan dekoratif. Untuk masalah dekoratif ini mungkin penerbit punya alasan: bagaimana kami bisa bertahan jika tidak mengikuti arus tren sampul? Ya, coba kita tengok buku-buku chicklit, resep, atau pengembangan diri: semua sampulnya beradu ramai satu sama lain hingga tidak satu pun yang justru tampak menonjol. Sebenarnya, tidak ada alasan kenapa desain sampul buku sastra klasik harus turut tenggelam dalam gempuran buku popular lainnya. Fakta kedua, hampir semua sampul rancangan ulang justru mengurangi daya imaji dan greget buku. Ini yang saya sebut hilangnya impresi. Layaknya aura, impresi harus mampu membuat penasaran dan melayangkan imajinasi calon pembaca, menutupi sekaligus membocorkan konten buku.

  

Melihat sampul lama Olenka (Balai Pustaka, 1983), kita dibuat berkerut melihat dua wajah perempuan yang sama persis diletakkan berhadapan. Siapa perempuan cantik itu? Kenapa ada dua? Dan semakin diamati, semakin misteriuslah gambar itu karena menghasilkan sosok hitam di antaranya. Seperti itulah konten Olenka, sebuah perjalanan seorang pria yang jatuh cinta pada perempuan yang ia amati dari kejauhan. Siapa Olenka sebenarnya, tidak ada yang tahu, bahkan mungkin si penulis pun. Tema ‘kemisteriusan’ rupanya juga ingin diangkat oleh desainer baru Olenka (Balai Pustaka, 2009). Namun secara teknis sampul tersebut tampak terlalu njlimet karena berusaha menggabungkan banyak elemen, termasuk empat jenis font yang sungguh berlebihan. Secara konsep pun patut dipertanyakan: kenapa harus menggunakan jenis font gothic, di saat tidak ada satu pun elemen cerita yang berhubungan dengan jaman gothic? Kemisteriusan pun meluap bersama kebingungan kita dalam mempertanyakan ketidaknyambungan elemen-elemennya.

  

Hal serupa terjadi pada sampul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Melihat rancangan barunya (Pustaka Dini Malaysia, 2002), calon pembaca yang disuguhkan ilustrasi kapal terombang-ambing berpikir bahwa cerita ini berlatar sebuah kapal, layaknya Titanic. Belum lagi penulisan judul yang dibuat dengan efek tiga dimensi, dan KAPAL dituliskan dengan huruf kapital. Faktanya, Kapal Van Der Wijck hanya muncul sekali, itu pun di penghujung cerita. Berbeda jika kita melihat desain sampul terdahulu (Penerbit Bulan Bintang, 1976), imajinasi kita dibawa pada sesuatu yang ‘tidak ada’, membingungkan, sekaligus mengerikan: seakan keberadaan manusia dan benda-benda dihilangkan seketika oleh semesta. Kesan ini sesuai dengan cerita di dalamnya, yaitu kisah kasih tak sampai karena permasalahan keluarga dan perbedaan adat, yang akhirnya pupus setelah lama terombang-ambing. Desainer versi awal berhasil menangkap semua itu hanya dengan gambar riak laut berwarna gelap dan permainan tipografi sederhana pada judul (huruf ‘mn’ yang ‘tenggelam’).

  

Mereka yang pernah membaca kumpulan Seribu Kunang-kunang di Manhattan pasti terngiang-ngiang dengan spontanitas dan kesantaian Umar Kayam bercerita. Membacanya seperti mendengarkan seorang paman paruh baya yang sedang duduk di hadapan kita, bertutur sambil sesekali melamun. Mungkin karena itu, saya menganggap sampul awal Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Jaya, 1972) sangat sesuai dengan isi buku. Melihat sketsa pena satu warna (digambar oleh seniman Zaini), saya bisa membayangkan Umar Kayam sendiri yang menggambarnya ketika duduk termenung di Central Park menghadap bangunan-bangunan tinggi Manhattan. Sederhana, namun mampu membuat kita membayangkan suasana hatinya yang gundah ingin terus bercerita. Seperti buku-buku terbitan Pustaka Jaya pada era yang sama, penggunaan tipografi terasa pas, tidak neko-neko dan informatif. Lalu kita lihat rancangan ulang sampul buku tersebut (Grafiti Press, 2003). Walaupun secara komposisi tidak se-njlimet sampul-sampul rancangan baru yang sudah kita bahas, tapi agak sulit melihat keterhubungan ilustrasi sampul tersebut dengan nuansa cerita di dalamnya. Belum lagi jenis font yang dipilih sebagai judul, rasanya tidak tepat menggambarkan cerita Umar Kayam yang tegas dan spontan. Sampul baru ini tampak feminin, dan romantik. Mungkin karena itu, ketika ilustrasi serupa (digambar oleh seniman Rusli) digunakan pada sampul Pada Sebuah Kapal (Pustaka Jaya, 1973) karya NH Dini, takarannya menjadi pas.

  

Setelah mengamati sekian banyak sampul buku sastra klasik Indonesia dari dekade ke dekade, sampul Belenggu terbitan awal (Pustaka Rakjat, 1964) tampak menonjol karena menjadi satu-satunya rancangan yang menggunakan tipografi sebagai elemen informatif sekaligus ilustrasi, sesuatu yang sangat jarang dilakukan perancang sampul buku di Indonesia, bahkan hingga saat ini. Gambar tangan yang keluar dari huruf ‘B’ mengingatkan kita pada belenggu borgol, membuat pembaca dapat membayangkan bagaimana kisah cinta manusia yang seharusnya membebaskan justru mengekang dan berakhir tragis. Ketika sampul buku tersebut dirancang ulang (Dian Rakyat, 1976, 1999), dimunculkanlah sosok perempuan berkonde yang dengan pandangan mata dan gerakan tangannya, seolah adalah korban. Ini membingungkan, karena saya merasa bahwa ketiga karakter utama (dr. Tono, Tini, dan Yah), sama-sama terbelenggu oleh hasrat masing-masing, bukan salah satu tokoh perempuan saja. Huruf ‘B’ digambarkan berbentuk borgol, seakan ilustrasi perempuan tersebut kurang tampak nelangsa. Jangan-jangan, di rancangan ulang sampul berikutnya, tangan perempuan itu akan diborgol pula. Tidak semestinya interpretasi menjadi begitu harafiah.

Ketidaktepatan penggunaan elemen desain dan interpretasi dalam contoh-contoh di atas sebenarnya adalah kesalahan mendasar yang bisa dihindari apabila penerbit mau meluangkan waktu (dan uang) untuk mengajak desainer grafis yang kompeten bekerja sama. Tidak perlu lagi para editor atau pekerja admin adu jagoan multi-tasking di kantor. Ada baiknya kita belajar dari Penguin Classics sebagai penerbit buku yang terus mengusahakan cetak ulang buku sastra klasiknya dengan desain segar, tanpa meninggalkan esensi klasik. Mereka mengundang seniman, bahkan komikus muda untuk menggarap sampul sastra klasik seperti Dharma Bums karya Jack Kerouac (digambar oleh kartunis Norwegia, Jason) dan Candide karya Voltaire (digambar oleh Chris Ware). Hal serupa pernah dilakukan penerbit-penerbit Yogyakarta, salah satunya adalah Bentang, yang mengundang para seniman untuk menggarap sampul buku mereka, seperti Ong Harry Wahyu, R. E. Hartanto, Agung Kurniawan. Kolaborasi semacam ini juga sebenarnya dilakukan oleh Balai Pustaka dan Pustaka Jaya di era 1950-1970-an.

Tugas desainer grafis menyangkut begitu banyak bidang kehidupan: mulai dari seni, ekonomi, sosial, dan politik. Bahkan sastra klasik bersinggungan langsung dengan pendidikan. Bukankah karya sastra klasik Indonesia, telah berjasa menggambarkan perkembangan budaya dan perjuangan negeri ini? Maka dalam merancang sampulnya, sudah sepatutnyalah kita merias wajah terbaik yang bisa ditampilkan. [  ]

Tulisan ini dimuat di Majalah Bung! #2, edisi Desember 2011

disalin mentah-mentah dari sini: Dicari, Sampul Asyik Sastra Klasik

Iklan

Dealing With Social Media Trolls: Time to Get Tough?

Author: Mike McGrail

The social web is a beautiful thing, it brings so much to so many of us, from new friends to vital information. It can be massively important, but oh so frivolous at the same time.  But it isn’t all fluffy little bunnies out there, especially when it comes to brands and their use of social media.

The Trolls Cometh

When a brand/business/organisation does something wrong, the fallout can often extend way beyond the ‘real-life’. Negativity spills out across the web on forums, Twitter, Facebook and so on. It can be a real nightmare to deal with and even when the correct processes have been followed, there can still be people who will not let the issue go and carry on baiting and attacking the business in question. Often they aren’t even customers of said business. You can class these people as trolls. What are the habits, activities and tell-tale signs of a troll?

1 – The ability to post across social platforms at an incredible frequency – one that would tell you that they have no job (or life) or a clueless boss

2 – An often brutal use of harsh language and personal attacks on those behind the social media accounts

3 – A lack of will to listen to any reasoning or solutions to the problem

4 – No personal picture in their profile images

5 – Bad breath, poor fashion sense, multiple failed relationships and zero ability to communicate in the real world 

When the social media heat is on, you have a responsibility to communicate with those using social media to convey their issues etc, however this can only go so far. You must try your hardest to fix the issue, converse with those who put genuine questions to you and seek to help them as much as possible. Be seen to be helpful and to be trying very hard to put things right – you’ll see things improving.

When a pack of trolls come hunting, don’t feel the need to answer them. This may sound crazy, but once you engage with them, the floodgates will open. They are baiting you into an argument. It can very easily get to a point where you are spending more time battling trolls than serving genuine customers. This helps nobody other then the sad people hiding behind their keyboards. It can be hard to ignore, and it will make you angry and frustrated, but don’t rise to the bait. Never stoop to their level. Not their nasty, low-intelligence level, but perhaps it is time for a change?

Social media has changed behaviour expectations

If somebody repeatedly came into a retail store, using harsh language and abusing the staff, what would happen? Customers in the store may step in and stand-up to the abuser. This can happen on social, when non-trolls interject and tell the trolls to ‘jog on’, however those brave souls are often pounced on by trolls and righty flee. What is more likely is that store security would eject them from the premises or even involve the police. These actions are taken in response to socially unacceptable behaviour. So why should brands put up with it on social media? It is time to get tough? Fight back in a dignified way? Yes, more support is needed from the platforms (to protect individuals, not just brans of course), but why should brands put up with this sort of abuse, just to conform to the idealistic social media approach of ‘being nice’. Fight fire with fire? Or is that too dangerous?

Copy-pasted from: http://socialmediatoday.com/mikevelocity/1649776/dealing-social-media-trolls-time-get-tough